1. DEFINISI
Hematologi adalah bidang studi kesehatan yang mempelajari tentang darah dan gangguan darah yang terjadi. Dalam hematologi, diketahui gangguan darah biasanya terjadi karea adanya penyakit, efek samping obat-obatan, dan kekurangan nutrisi tertentu dalam asupan makanan sehari-hari. Gangguan darah dapat memegaruhi salah satu dari ketiga komponen utama darah, yaitu sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit (Zahroh dan Istiroha, 2019).
Proses pembekuan darah dapat dilakukan bagi menjadi 3 stadium yaitu sebagai berikut:
Stadium I: pembentukan tromboplastin
Stadium II: perubahan dari protrombin menjadi trombin
Stadium III: perubahan dari fibrinogen menjadi fibrin
A. PEMBEKUAN DARAH
Merupakan proses dimana komponen cairan darah di transformasi menjadi material semisolid yang dinamakan bekuan darah. Bekuan darah tersusun terutama oleh sel-sel darah yang terperangkap dalam jaring-jaring fibrin. Fibrin adalah suatu protein yang tidak larut dan berupa benang berbentuk semacam jaring-jaring. Fibrin yang terbentuk berasal dari fibrinogen yang terdapat dalam plasma dalam keadaan larut. Berubahnya fibrin dari fibrinogen karena adanya trombin, yaitu suatu enzim proteolitik yang hanya bekerja apabila dalam keadaan aktif. Pada proses ini terdapat sistem hemostatis yang berfungsi memulai pembekuan darah dan menghentikan perdarahan. Terjadi proses koagulasi yaitu proses merubah darah dari keadaan cair menjadi bekuan darah seperti agar dan fibrinolisis untuk menjaga supaya darah tetap cair. Perlu pula dihindari pembentukan bekuan darah yang berlebih hingga menyebabkan trombosis (Handayani dan Haribowo, 2008).
B. ANTIKOAGULANSIA
suatu keadaan dimana pembekuan darah ini perlu untuk dihambat sehingga digunakanlah antikoagulan. Antikoagulan merupakan suatu senyawa yang digunakan untuk menghambat pembentukan bekuan darah. Antikoagulan ini bekerja dengan cara penghambatan pembentukan bekuan darah baru. Obat anti koagulan mencegah pembentukan fibrin yang merupakan bahan esensial untuk pembentukan trombus. Obat trombolitik mempercepat degradasi fibrin dan fibrinogen oleh plasmin sehingga membantu larutnya bekuan darah. Penggunaan obat anti koagulan tidak dapat memperbaiki jaringan yang sudah rusak ataupun menghentikan secara langsung pembentukan thrombus tetapi obat anti koagulan ini lebih ditujukan sebagai pencegahan agar tidak terjadi komplikasi seperti meluasnya thrombus.
Salah satu contoh antikoagulan adalah warfarin.
Warfarin adalah obat untuk mengobati penggumpalan darah pada kondisi deep vein thrombosis (DVT) atau emboli paru. Obat ini juga digunakan untuk mencegah terjadinya gumpalan darah pada penderita fibrilasi atrium atau pada pasien yang baru melakukan operasi penggantian katup jantung.
Warfarin merupakan obat antikoagulan yang bekerja dengan cara menghalangi pembentukan protein yang berperan pada proses pembekuan darah. Dengan begitu, risiko terbentuknya gumpalan darah penyebab tersumbatnya pembuluh darah bisa diturunkan. Obat ini tidak boleh digunakan sembarangan dan harus sesuai dengan resep dokter.
a. farmakokinetika
- Mula kerja biasanya sudah terdeteksi di plasma dalam 1 jam setelah pemberian.
- Kadar puncak dalam plasma: 2-8 jam.
- Waktu paruh : 20-60 jam; rata-rata 40 jam.
- Bioavailabilitas: hampir sempurna baik secara oral, 1M atau IV.
- Metabolisme: ditransformasi menjadi metabolit inaktif di hati dan ginjal.
- Ekskresi: melalui urine dan feses.
b. farmakodinamik
Efek antikoagulan dari warfarin berasal dari inhibisi interkonversi siklik vitamin K di liver. Bentuk vitamin K yang tereduksi dibutuhkan untuk karboksilasi faktor II, VII, IX, dan X sehingga faktor-faktor koagulasi ini menjadi bentuk aktif. Maka, tanpa vitamin K tereduksi, faktor-faktor di atas tidak dapat berfungsi sebagai faktor koagulan. Warfarin mengintervensi konversi vitamin K menjadi bentuk yang tereduksi, sehingga warfarin secara tidak langsung mengurangi jumlah faktor-faktor koagulasi tersebut. Dosis terapeutik warfarin mengurangi jumlah faktor koagulan bentuk aktif tergantung vitamin K yang diproduksi oleh liver mencapai hingga 30%-50%.
c. indikasi
Untuk profilaksis dan pengobatan komplikasi tromboembolik yang dihubungkan dengan fibrilasi atrium dan penggantian katup jantung, serta sebagai profilaksis terjadinya emboli sistemik setelah infark miokard (FDA approved). Profilaksis TIA atau stroke berulang yang tidak jelas berasal dari problem jantung.
d. kontra indikasi
Semua keadaan di mana resiko terjadinya perdarahan lebih besar dari keuntungan yang diperoleh dari efek anti koagulannya, termasuk pada kehamilan, kecenderungan perdarahan atau blood dyscrasias dll.
e. efek samping
Perdarahan dari jaringan atau organ, nekrosis kulit dan jaringan lain, alopesia, urtikaria, dermatitis, demam, mual, diare, kram perut, hipersensitivitas dan priapismus.
f. dosis
Dosis inisial dimulai dengan 2-5 mg/hari dan dosis pemeliharaan 2-10 mg/hari. Obat diminum pada waktu yang sama setiap hari. Dianjurkan diminum sebelum tidur agar dapat dimonitor efek puncaknya di pagi hari esoknya. Lamanya terapi sangat tergantung pada kasusnya. Secara umum, terapi anti koagulan harus dilanjutkan sampai bahaya terjadinya emboli dan trombosis sudah tidak ada. Pemeriksaan waktu protrombin harus dilakukan setiap hari begitu dimulai dosis inisial sampai tercapainya waktu protrombin yang stabil di batas terapeutik. Setelah tercapai, interval pemeriksaan waktu protrombin tergantung pada penilaian dokter dan respon penderita terhadap obat. Interval yang dianjurkan adalah 1-4 minggu.
PERMASALAHAN
2. Seorang wanita 39 tahun mengalami kelainan pada katup jantung mitral dan katup trikuspid sejak usia 36 tahun. Pasien menjalani operasi penggantian katup jantung Setelah operasi pasien kontrol teratur ke dokter ahli jantung, dan mendapatkan terapi warfarin. Setelah 2 tahun pasca pemasangan katup jantung mekanik prostetik, pasien mengalami kehamilan dan baru menyadarinya setelah 5 minggu. pada usia kehamilan 6 minggu, pasien telah ditawarkan untuk dilakukan penggantian warfarin dengan pemberian heparin oleh dokter dengan alasan bahwa heparin lebih aman dibandingkan dengan warfarin, jelaskan alasan kenapa heparin dianggap lebih aman dibandingkan warfarin ?


