ARTRITIS REUMATOID
- Methotrexate (MTX) : inhibitor dihidrofolat reduktase, menghambat kemotaksis, efek antiinflamasi melalui induksi pelepasan adenosine. Dosis 7,5-25 mg/minggu (per oral atau intramuskular)
- Sulfasalazine : menghambat respon sel B dan angiogenesis. Dosis 2-3 g/hari (per oral).
- Hidroksiklorokuin (Plaquenil) , klorokuin fosfat : menghambat sekresi sitokin, enzim lisosomal dan fungsi makrofag. Dosis 250 mg/hari (per oral).
- Leflunomide (Arava) : menghambat sintesis pirimidin. Dosis 100 mg/hari (per oral).
- Cyclosporine : menghambat sintesis IL-2 dan sitokin sel T lainnya. Dosis 2,5-5 mg/kgBB/hari (per oral).
- D-Penicilamine (Cuprimine) : menghambat fungsi sel TH dan angiogenesis. Dosis 250-750 mg/hari (per oral).
- Adalimumab (Humira) : antibody TNF (human). Dosis 40 mg/2 minggu (subkutan).
- Etanercept (Enbrel) : reseptor TNF terlarut (soluble). Dosis 25 mg (subkutan) 2 kali per minggu atau 50 mg/minggu.
- Infliximab (Remicade) : antibody TNF (chimeric). Dosis 3 mg/kgBB (infus intravena).
- Certolizumab Pegol (CDP870) : human anti-TNF-α-antibody. Dosis 1 mg, 5 mg, 20 mg/kgBB (infus tunggal).
- Golimumab : fully human protein antibody yang mengikat TNF α. Dosis 50 mg atau 100 mg (subkutan) setiap 2 atau 4 minggu.
- Rituximab (Mabthera) : antibody antisel B (CD20). Dosis 1 g setiap 2 minggu.
- Ocrelizumab : 10 mg, 50 mg, 200 mg, 500 mg dan 1 g (infus).
- Ofatumumab (Humax-CD20) : human monoclonal anti-CD20 IgG1 antibody. Dosis 300 mg, 700 mg, atau 100 mg (infus).
- Denosumab : human monoclonal IgG2 antibody terhadap RANKL. Dosis 60 mg atau 180 mg (subkutan) setiap 6 bulan selama 1 tahun.
- Absorpsi : 15% dari dosis diserap dari usus halus, sisanya mencapai usus besar dimana ikatan azo dibelah oleh flora usus, menghasilkan sulfapyridine dan asam 5-aminosalicylic (mesalazine). 60% sulfapyridine dan 10-30% asam 5-aminosalicylic diserap dari usus besar
- Distibusi : pada pemberian secara intravena dapat melintasi plasenta dan ditemukan dalam ASI. Sulfasalazine secara ekstensif terikat protein sementara sulfapyridine didistribusikan ke sebagian besar jarigan tubuh.
- Volume distribusi : 7,5 liter
- Metabolisme : sulfapiridin mengalami metabolisme ekstensif dengan asetilasi, hidroksilasi dan glukoronidasi. Asam 5-aminosalisilat yang terserap mengalami asetilasi
- Ekskresi : melalui urin sebagai sulfasalazine tidak berubah (15%), sulfapiridin dan metabolitnya (60%) dan asam 5-aminosalisilat dan metabolitnya (20-33%)
- Interaksi obat : kadar plasma dikurangi oleh rifampisin dan etambutol, menggangu penyerapan asam folat, mengurangi kadar digoksin serum.
- Mekanisme kerja : menghambat respon sel B dan angiogenesis.
- Efek samping obat : umumnya nyeri sendi, deman, sakit kepala berkelanjutan, fotosensitifitas, ruam kulit atau gatal, muntah, anoreksia, dan dispepsia
- Indikasi : penyakit artritis reumatoid dan radang usus
- Absorpsi : diserap perlahan
- Bioavailabilitas : sekitar 64%
- Waktu puncak plasma : sekitar 3-8 hari
- Distribusi : melalui plasenta dan memasuki ASI
- Volume distribusi : 4,7-6 liter
- Waktu paruh terminal : rata-rata sekitar 2 minggu
- Mekanisme kerja : merupakan rekombinan antibodi monoklonal DNA turunan dari IgG1 manusia. Obat ini berikatan pada tumour necrosis faktor alfa (TNF-α) manusia, sehingga mempengaruhi proses peradangan yang dipicu oleh sitokin
- Interaksi obat : peningkatan resiko infeksi serius dengan obat bDMARD lainnya (seperti abatacept dan anakinra) dan rituximab, meningkatkan pengaruh imunosupresan dengan tocilizumab dan vaksin aktif
- Indikasi :artritis reumatoid, artritis psoriatik, posiasis plak, penyakit Cohn, kolitis useratif
- Efek samping obat : batuk, sakit kepala, pusing, parasthesia, insomnia