Senin, 30 November 2020

ANTIHISTAMIN II (PROPILAMIN DAN FENOTIAZIN)

 TURUNAN PROPILAMIN 

1. Obat golongan ini memiliki daya Antihistamin yang kuat 

2. Merupakan antagonis H1 yang paling aktif

3. Tidak cenderung membuat kantuk, tetapi beberapa pasien mengalami efek ini

Propilamin terdiri dari jenuh dan tidak jenuh

Contoh propilamin jenuh



1. Feniramin maleat, Trimeton

Berupa garam berwarna putih dengan sedikit bau seperti amin yang larut dalam air dan alkohol. Feniramin maleat merupakan anggota seri yang paling kecil potensinya dan dipasarkan sebagai rasemat.

2. Khlorfeniramin maleat, CTM

Berupa puser kristalin putih, larut dalam air, alkohol dan kloroform. Pka : 9,2 dan larutannya dalam air pH: 4-5. Klorinasi ferinamin pada posisi para di cincin fenil memberikan kenaikan potensi sepuluh kali dengan perubahan toksisitas tidak begitu besar, dimana hampir semua aktivitasnya terletak pada enantiomorf dekstro. 

3. Destroklorfeniramin maleat

Aktivitas antihistamin nya paling dominan dan mempunyai konfigurasi S yang super impossible pada konfigurasi S enantiomorf karbinoksamin levorotorari yang lebih aktif

4. Bromfeniramin maleat

Fungsinya sama dengan khlorfeniramin maleat senyawa ini mempunyai waktu kerja yang panjang dan efektif dalam dosis 50x lebih kecil dibandingkan dosis tripenalamin

5. Dekstrobromfeniramin maleat

Aktivitasnya didominasi oleh isomer dekstro.

Contoh propilamin tidak jenuh 



1. Pirobutamin fosfat 

Berupa serbuk kristal putih yang larut dalam air panas sampai 10%. Garam fosfatnya lebih mudah diabsorbsi dari pada garam HCl nya.

2. Tripolidin HCl

Berupa puser Kristalin putih, larut dalam air, alkohol dan larutannya alkali terhadap lakmus. Aktivitasnya ditentukan oleh isomer geometrik. Dimana gugus pirolidinometil adalah trans terhadap gugus 2-piridil. Studi farmakologi terbaru memastikan aktivitas tripolidin yang tinggi dan keunggulan isomer E terhadap isomer Z sebagai antagonis H1.


misalnya untuk obat Chlorpheniramine Maleat :  

Peran penting dari farmakologi chlorpheniramine maleat / CTM, dikenal juga sebagai klorfeniramin maleat atau klorfenamin maleat, sebagai zat antagonis H1 (antihistamin) adalah mekanisme kerja yang berguna untuk mengatasi tipe alergi yang bersifat eksudatif akut, seperti manifestasi simtom dari rhinitis alergi, urtikaria, dan konjungtivitis alergi.

Dosis :

Anak-anak usia 6-11 tahun, 2 mg, tiap 4-6 jam. Batas maksimal dosis per hari adalah 12 mg. dan Anak-anak usia di atas 12 tahun hingga dewasa 4 mg, tiap 4-6 jam. Batas maksimal dosis per hari adalah 24 mg, dan 12 mg bagi orang berusia di atas 65 tahun

 

Farmakodinamik

Mekanisme kerja chlorpheniramine sebagai antagonis H1, adalah berkompetisi dengan aksi dari histamin endogenus, untuk menduduki reseptor-reseptor normal H1 pada sel-sel efektor di traktus gastrointestinal, pembuluh darah, traktus respiratorius, dan beberapa otot polos lainnya. Efek antagonis terhadap histamin ini akan menyebabkan berkurangnya gejala bersin, mata gatal dan berair, serta pilek pada pasien. 

Chlorpheniramine maleat memiliki efek antikolinergik, dan sedatif ringan. Diperkirakan bahwa mekanisme antihistamin obat ini, juga memiliki efek antiemetik, antimotion sickness, dan antivertigo, berhubungan dengan kerja obat dalam memengaruhi antikolinergik pusat. Obat antagonis H1 klasik, dapat menstimulasi dan mendepresi susunan saraf pusat. Chlorpheniramine yang digunakan secara topikal, dapat meredakan pruritus.

 

Farmakokinetik

Farmakokinetik chlorpheniramine maleat adalah sebagai berikut:

Absorpsi

Obat chlorpheniramine diabsorpsi baik setelah konsumsi per oral. Bioavailabilitas obat sekitar 25‒50%. Konsentrasi puncak tercapai dalam waktu 2‒3 jam. Masa kerja obat adalah sekitar 4‒6 jam. [6]

Metabolisme

Chlorpheniramine terutama dimetabolisme di hepar, melalui enzim sitokrom P450 (CYP450). Antihistamin H1 merupakan salah satu golongan obat yang menginduksi enzim mikrosomal hepatik, dan dapat memfasilitasi metabolismenya sendiri.

Distribusi

Sekitar 72% chlorpheniramine dalam plasma darah terikat protein.

Eliminasi

Waktu paruh obat dalam plasma darah, bervariasi sekitar 12‒15 jam, hingga mencapai 27 jam. Waktu paruh dapat berdurasi sekitar tiga kali lebih lama daripada efek terapeutiknya. Sebagian besar chlorpheniramine dikeluarkan oleh tubuh, melalui urine.

Waktu Paruh

waktu paruh obat dalam plasma darah, bervariasi sekitar 12‒15 jam, hingga mencapai 27 jam. 

Chlorpeniramine maleat diabsorpsi baik melalui pemakaian oral, walaupun obat ini mengalami metabolisme substansial pada mukosa gastrointestinal sebelum diabsorpsi dan mengalami reaksi first pass metabolisme di hati. Data menunjukkan sebesar 25 -45% dan 35 - 60% dosis tunggal peroral Chlorpeniramine maleat tablet dan sediaan cair berturut turut melewati sirkulasi sistemik sebagai obat tak berubah (parent drug). Bioavaibilitas sediaan lepas lambat dari obat ini dikurangi dengan membandingkan bioavaibilitas pada sediaan tablet dan cair Chlorpeniramine maleat. 

Chlorpeniramine maleat diabsorpsi relatif lambat dari saluaran Chlorpeniramine maleat diabsorpsi baik melalui pemakaian oral, walaupun obat ini mengalami metabolisme substansial pada mukosa gastrointestinal sebelum diabsorpsi dan mengalami reaksi first pass metabolisme di hati. Data menunjukkan sebesar 25 -45% dan 35 - 60% dosis tunggal peroral Chlorpeniramine maleat tablet dan sediaan cair berturut turut melewati sirkulasi sistemik sebagai obat tak berubah (parent drug). Bioavaibilitas sediaan lepas lambat dari obat ini dikurangi dengan membandingkan bioavaibilitas pada sediaan tablet dan cair Chlorpeniramine maleat.

Chlorpeniramine maleat diabsorpsi relatif lambat dari saluaran Chlorpeniramine maleat diabsorpsi baik melalui pemakaian oral, walaupun obat ini mengalami metabolisme substansial pada mukosa gastrointestinal sebelum diabsorpsi dan mengalami reaksi first pass metabolisme di hati. Data menunjukkan sebesar 25 -45% dan 35 - 60% dosis tunggal peroral Chlorpeniramine maleat tablet dan sediaan cair berturut turut melewati sirkulasi sistemik sebagai obat tak berubah (parent drug). Bioavaibilitas sediaan lepas lambat dari obat ini dikurangi dengan membandingkan bioavaibilitas pada sediaan tablet dan cair Chlorpeniramine maleat

Chlorpeniramine maleat diabsorpsi relatif lambat dari saluaran pencernaan, konsentrasi puncak plasma diketahui sekitar 2,5 sampai 6 jam setelah dosis per oral. Pada orang dewasa dengan fungsi ginjal dan hati yang normal, waktu paruh eliminasi chlorpeniramine maleat yaitu 12 - 43 jam, pada anak – anak dengan fungsi hati dan ginjal yang normal, waktu paruh eliminasinya antara 9,6 13,1 jam. Pada pasien dengan kerusakan ginjal kronis dengan hemodialisis, waktu paruh chlorpeniramine maleat antara 280 - 330 jam.

Chlorpeniramine maleat terdistribusi pada saliva dan sejumlah kecil obat maupun metabolitnya terdistribusi ke empedu. Secara invitro, chlorpeniramine maleat kira – kira terikat pada protein plasma sebesar 69-72%. Chlorpeniramine dan metabolit metabolitnya diekskresi secara lengkap melalui urin. Ekskresi melalui urin dari chlorpeniramine dan metabolit metabolitnya yang merupakan hasil dari N-dealkilasi bervariasi terhadap pH urin dan aliran urin. Penelitian menunjukkan pada orang sehat dengan fungsi ginjal dan hati yang normal menunjukkan 20% dari dosis tunggal peroral diekskresikan melalui sebagai urin dalam bentuk tak berubah, 20% monadesmetilchlomeniramine dan 5% sebagai didesmetilchlorpeniramin.

 

TURUNAN FENOTIAZIN

Fenotiazin merupakan golongan obat antipsikotik, Fenotiazin dibagi ke dalam 3 kelompok (yang perbedaan utamanya terutama pada efek sampingnya), yaitu  :

  1. Alifatik, Fenotiazin alifatik menghasilkan efek sedatif yang kuat, menurunkan tekanan darah, dan mungkin menimbulkan gejala- gejala ekstrapiramıdal (EPS = Extrapyramıdal Symptoms).
  2. Piperazin, Fenotiazin pıperazin menghasilkan efek sedatif yang sedang, efek antiemetik yang kuat, dan beberapa menurunkan tekanan darah. Obat-obat ini juga menyebabkan timbulnya lebih banyak gejala-gejala ekstrapıramidal dari pada fenotiazin yang lain.
  3. Piperadın, Fenotiazin piperadin mempunyai efek sedatif yang kuat, menimbulkan sedikit gejala-gejala ekstrapiramidal, dapat menururikan tekanan darah, dan tidak mempunyai efek antiemetik.
  4. Contoh Obat : acepromazine, perphenazine,chlorpromazine, dan prochlorperzine.

    Farmakologi Acepromazine

    Dosis : Catatan-Perusahaan melampirkan dosis 0,5-22 mg/kg untuk anjing dan kucing dipertimbangkan oleh banyak dokter hewan klinik 10 kali lebih dari keperluan untuk kebanyakan indikasi. Jika obat diberika melalui IV, berikan perlahan, onset aksi akan terlihat sekurangnya 15 menit.

    Acepromazin adalah agen neuroleptik phenotiazin. Saat ini mekanisme aksi obat ini masih belum dipahami sepenuhnya, phenotiazin memblok post sinaptik reseptor dopamin pada sistem saraf pusat dan juga menghambat pelepasan dan peningkatan kadar dopamin. Digunakan untukanjing dan kucing serta kuda, menghambat post-sinaptic dopaminereseptor dalam SSP menekan sistem dalam tubuh yangmengatur tekanan darah sehinggamenimbulkan hipotensi danbradycardi.

    Obat ini menurunkan kecepatan pernafasan tetapi tidak berpengaruh pada gambaran darah (pH atau oxyhemoglobin saturation). Obat ini mempunyai onset yang lamatetapi memiliki durasi yang panjang. Obat ini diperkirakan menekan bagian sistem aktivasi retikuler yang membantu mengontrol temperatur tubuh, metabolisme basal, emesis, kesehatan vasomotor, keseimbangan hormon, dan kesadaran. Ditambah lagi, phenotiazin memiliki derjat bervariasi terhadap efek blok antikonergik, antihistamin, antispasmodik, dan alfa-adrenergik.

    Efek utama yang diinginkan dalam penggunaan acepromazin pada penanganan medis veteriner adalah sebagai transquilizer. Ditambah dengan aksi farmakologis yang diberikan acepromazin yang meliputi antiemetik, antispasmodik, dan penanganan hipotermia. 

    Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa acepromazin memiliki aktivitas antikonvulsan, tetapi dalam medis veteriner umumnya phenotiazin sebaiknya jangan digunakan pada hewan yang mengalami epilepsi atau rentan mengalami kejang (seperti paca myelografi).

    Acepromazin dapat menurunkan nilai respiratori, namun beberapa studi mendemonstrasikan bahwa efeknya hanya berpengaruh kecil atau tidak terjadi pada gambar gas darah, pH, atau saturasi oksihemoglobin. 

    Penurunan dosis pada hematokrit terlihat pada 30 menit setelah pemberian obat pada kuda dan anjing. Pada kuda, nilai hematokrit dapat menurun hingga 50% dari dosis awal, akibat peningkatan skuestrasi splenik pada sel darah merah.

    Selain dapt menurunkan tekanan darah arterial pada anjing, acepromazin menyebabkan peningkatan tekanan vena sentral, hal ini termasuk efek bradikardia dan blok sinoatrial. Bradikardia dapat ditiadakan dengan efek reflek takikardia sekunder untuk menurukan tekanan darah.  

    Acepromazin juga memiliki efek antidysritmik. Acepromazin telah didemostrasikan dapat menghambat induksi aritmia melalui barbiturat aksi pendek-panjang, dan memberi perlindungan melawan fibrilasi ventrikuler dari halotan dan epineprin.

    Farmakokinetik Acepromazine

    Onset yang lama, membutuhkanwaktu 15 menit melalui Intravena. Puncaknya menit ke 30-60. Dimetabolisme di hati dan dieliminasimelalui urine. Durasi obat 6-8 jam.    

    DAFTAR PUSTAKA

    Siswandoyo dan B. Soekardjo. 2008Kimia Medisinal jilid 2. Jakarta : Airlangga University Press.

    PERMASALAHAN

    1. Salah satu karakteristik antihistamin turunan propilamin yaitu cenderung tidak menimbulkan efek kantuk, tetapi beberapa pasien mengalami efek kantuk ini. bagaimanakah interaksi antara obat turunan propilamin jika dikombinasikan dengan obat untuk mengatasi insomnia ?

    2. Bagaimanakah proses hipersensitivitas dapat terjadi pada sebagian orang ketika mengonsumsi obat antihistamin dan berikan penatalaksanaanya dalam mengatasi masalah tersebut!


17 komentar:

  1. Helloww soniaa.. Artikelnya bagus sekali untuk menambah pemahaman tentang antihistamin :))
    Disini saya akan coba menjawab pertanyaan nomor 2, dari beberapa artikel yang saya baca, reaksi hipersensitivitas ini merupakan reaksi alergi/respon abnormal tubuh terhadap suatu obat melalu respon imunologi nya selama pemakaian obat. Rx hipersensitivitas saat pemakaian antihistamin termasuk kedalam rx hipersensitivitas tipe 1 dengan cara kompleks obat-IgE akan berikatan dengan sel
    mast , dengan granulasi histamin, dan berbagai
    mediator sehingga akan menimbulkan rx seperti bronkospasme, angioedema, anafilaksis, urtikaria, dsb. Penatalaksaannya dapat dilakukan dengan penghentian pemakaian obat yang diduga menimbulkan rx hipersensitivitas dan berkonsultasilah kepada dokter jika mengalami reaksi yang cukup serius.
    Semoga jawaban saya dapat membantu hehe:))

    BalasHapus
  2. Hai sonia, saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 1.
    Untuk pengkombinasian obat antihistamin dengan obat insomnia jika penggunaannya untuk mengatasi insomnia sangat tidak di anjurkan, apalagi untuk jangka panjang, mengingat antihistamin ini berasal dari sintesis bahan kimia, sehingga dapat menimbulkan efek jangka panjang. Mohon responnya

    BalasHapus
  3. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻

    BalasHapus
  4. terimakasih ilmunya sangat membantu

    BalasHapus
  5. blognya menarik dan menambah wawasan,terimakasih !

    BalasHapus

RHEUMATOID ARTRITIS

  ARTRITIS REUMATOID Artritis reumatoid (RA) merupakan pembengkakan pada jaringan ikat yang menyerang sendi tangan dan kaki serta dapat terj...