Rabu, 16 Desember 2020

RHEUMATOID ARTRITIS

 ARTRITIS REUMATOID


Artritis reumatoid (RA) merupakan pembengkakan pada jaringan ikat yang menyerang sendi tangan dan kaki serta dapat terjadi pada semua golongan usia. Penyebabnya diduga adalah gangguan autoimunitas serta faktor infeksi, genetis, dan endokrin. Penderita yang mudah terkena RA secara genetis mengembangkan antibodi immunoglobulin G yang abnormal atau yang telah berubah saat terpapar suatu antigen. Gejala awal biasanya tidak khusus seperti rasa tidak enak badan, rasa dingin pada kaki dan tangan, demam ringan yang menerus, tidak nafsu makan, berat badan turun, kekakuan serta nyeri pada persendian. Gejala khasnya peradangan pada jaringan di sekitar sendi yang disebut sinovium sehingga timbul nyeri berkepanjangan, bengkak, sendi berwarna merah, dan terasa panas jika disentuh. Sendi dapat menjadi mati dan tidak dapat melakukan gerakan sehingga fungsi sendi menghilang. Diagnosa dilakukan dengan tes darah, analisis cairan sinovial, dan sinar X 
A. PATOGENESIS
        Predisposisi genetik dan faktor lingkungan berkontribusi dalam perkembangan, progresi, dan perjalanan kronis penyakit. Perubahan patologik dimediasi oleh antibodi terhadap antigen diri dan inflamasi yang disebabkan oleh sitokin, yang terutama disekresi oleh sel T CD4+. Sel T helper CD4+ (TH) dapat menginisiasi respons autoimun pada RA dengan bereaksi dengan suatu artritogen, yang dapat berupa mikrob atau antogen diri yang dimodifikasi secara kimiawi. Sel T memproduksi sitokin yang merangsang sel inflamatorik lain dan memberikan efek kerusakan jaringan. IFN-γ dari sel TH1 mengaktivasi makrofag dan sel sinovium 
TERAPI PENGOBATAN
        Terapi pada RA telah banyak mengalami kemajuan dan sejalan dengan pengetahuan tentang patogenesis RA, tujuan terapi saat ini adalah mengubah perjalanan dan mengontrol aktivitas penyakit RA. Beberapa kelompok obat-obatan telah digunakan dalam terapi RA diantaranya adalah obat antiinflamasi nonsteroid (aoains), disease modifying antirheumatic drugs (DMARD) baik yang konvensional (cDMARD) maupun agen biologi (bDMARD), golongan glukokortikoid dan obat-obatan anti nyeri (Andisari, 2018)
        Menurut Andisari (2018), berikut merupakan jenis-jenis obat yang dipakai sebagai terapi RA, yaitu :
- Obat Konvensional (cDMARD)
        Dapat mempengaruhi perkembangan penyakit, tetapi membutuhkan waktu 4-6 bulan pengobatan untuk mendapatkan respons terapetik penuh. Biasanya direkomendasikan serelah diagnosis oleh dokter dimana perkembangan dan keparahan penyakit sudah dipastikan. Obat ini tidak hanya mengatasi gejala dan tanda penyakit RA tapi juga manifestasi ekstraartikular seperti vaskulitis. Terdiri atas :
  1. Methotrexate (MTX) : inhibitor dihidrofolat reduktase, menghambat kemotaksis, efek antiinflamasi melalui induksi pelepasan adenosine. Dosis 7,5-25 mg/minggu (per oral atau intramuskular)
  2. Sulfasalazine : menghambat respon sel B dan angiogenesis. Dosis 2-3 g/hari (per oral).
  3. Hidroksiklorokuin (Plaquenil) , klorokuin fosfat : menghambat sekresi sitokin, enzim lisosomal dan fungsi makrofag. Dosis 250 mg/hari (per oral).
  4. Leflunomide (Arava) : menghambat sintesis pirimidin. Dosis 100 mg/hari (per oral).
  5. Cyclosporine : menghambat sintesis IL-2 dan sitokin sel T lainnya. Dosis 2,5-5 mg/kgBB/hari (per oral).
  6. D-Penicilamine (Cuprimine) : menghambat fungsi sel TH dan angiogenesis. Dosis 250-750 mg/hari (per oral).
- Agen Biologi (bDMARD)
        Pengobatan yang terbaru dan paling efektif untuk RA adalah agen-agen biologi. Terapi biologi secara genetik direkayasa proteinnya. Dirancang untuk menghambat komponen spesifik sistem kekebalan tubuh yang memainkan peran penting dalam peradangan dan merupakan komponen kunci dalam RA. Terdiri atas :
  1. Adalimumab (Humira) : antibody TNF (human). Dosis 40 mg/2 minggu (subkutan).
  2. Etanercept (Enbrel) : reseptor TNF terlarut (soluble). Dosis 25 mg (subkutan) 2 kali per minggu atau 50 mg/minggu.
  3. Infliximab (Remicade) : antibody TNF (chimeric). Dosis 3 mg/kgBB (infus intravena).
  4. Certolizumab Pegol (CDP870) : human anti-TNF-α-antibody. Dosis 1 mg, 5 mg, 20 mg/kgBB (infus tunggal).
  5. Golimumab : fully human protein antibody yang mengikat TNF α. Dosis 50 mg atau 100 mg (subkutan) setiap 2 atau 4 minggu.
  6. Rituximab (Mabthera) : antibody antisel B (CD20). Dosis 1 g setiap 2 minggu.
  7. Ocrelizumab : 10 mg, 50 mg, 200 mg, 500 mg dan 1 g (infus).
  8. Ofatumumab (Humax-CD20) : human monoclonal anti-CD20 IgG1 antibody. Dosis 300 mg, 700 mg, atau 100 mg (infus).
  9. Denosumab : human monoclonal IgG2 antibody terhadap RANKL. Dosis 60 mg atau 180 mg (subkutan) setiap 6 bulan selama 1 tahun.
C. PROFIL OBAT
1. Sulfasalazine (cDMARD)
Farmakokinetik 
  • Absorpsi : 15% dari dosis diserap dari usus halus, sisanya mencapai usus besar dimana ikatan azo dibelah oleh flora usus, menghasilkan sulfapyridine dan asam 5-aminosalicylic (mesalazine). 60% sulfapyridine dan 10-30% asam 5-aminosalicylic diserap dari usus besar
  • Distibusi : pada pemberian secara intravena dapat melintasi plasenta dan ditemukan dalam ASI. Sulfasalazine secara ekstensif terikat protein sementara sulfapyridine didistribusikan ke sebagian besar jarigan tubuh.
  • Volume distribusi : 7,5 liter
  • Metabolisme : sulfapiridin mengalami metabolisme ekstensif dengan asetilasi, hidroksilasi dan glukoronidasi. Asam 5-aminosalisilat yang terserap mengalami asetilasi
  • Ekskresi : melalui urin sebagai sulfasalazine tidak berubah (15%), sulfapiridin dan metabolitnya (60%) dan asam 5-aminosalisilat dan metabolitnya (20-33%)
Farmakodinamik 
  • Interaksi obat : kadar plasma dikurangi oleh rifampisin dan etambutol, menggangu penyerapan asam folat, mengurangi kadar digoksin serum.
  • Mekanisme kerja : menghambat respon sel B dan angiogenesis. 
Farmakologi
  • Efek samping obat : umumnya nyeri sendi, deman, sakit kepala berkelanjutan, fotosensitifitas, ruam kulit atau gatal, muntah, anoreksia, dan dispepsia
  • Indikasi : penyakit artritis reumatoid dan radang usus
2. Adalimumab (bDMARD)
Farmakokinetik
  • Absorpsi : diserap perlahan
  • Bioavailabilitas : sekitar 64%
  • Waktu puncak plasma : sekitar 3-8 hari
  • Distribusi : melalui plasenta dan memasuki ASI
  • Volume distribusi : 4,7-6 liter
  • Waktu paruh terminal : rata-rata sekitar 2 minggu
Farmakodinamik
  • Mekanisme kerja : merupakan rekombinan antibodi monoklonal DNA turunan dari IgG1 manusia. Obat ini berikatan pada tumour necrosis faktor alfa (TNF-α) manusia, sehingga mempengaruhi proses peradangan yang dipicu oleh sitokin
  • Interaksi obat : peningkatan resiko infeksi serius dengan obat bDMARD lainnya (seperti abatacept dan anakinra) dan rituximab, meningkatkan pengaruh imunosupresan dengan tocilizumab dan vaksin aktif
Farmakologi
  • Indikasi :artritis reumatoid, artritis psoriatik, posiasis plak, penyakit Cohn, kolitis useratif
  • Efek samping obat : batuk, sakit kepala, pusing, parasthesia, insomnia


DAFTAR PUSTAKA

Andisari, H.E. 2018. Current Therapy of Rheumatoid Arthritis (part 2). Journal Oceana Biomedicina. 1(2) : 90-102).
Kumar, V., A.K. Abbas dan J.C. Aster. 2018. Buku Ajar Patologi Robbin Edisi ke-10. Elsevier Inc : Singapore.
Hayes, P.C dan T.W. Mackay. 1997. Buku Saku Diagnosis dan Terapi. EGC : Jakarta.
Wijayakusuma, H. 2006. Atasi Rematik dan Asam Urat Ala Hembing. Puspa Swara : Jakarta.

PERMASALAHAN
1. Bagaimana mekanisme pengikatan antara struktur penicillamin dengan reseptornya di dalam tubuh sehingga dapat memberikan efek farmakologi ? jelaskan.
2. Apakah faktor penyebab terjadinya agen perbedaan bentuk pada terapi RA serta jelaskan pengaruhnya !

11 komentar:

RHEUMATOID ARTRITIS

  ARTRITIS REUMATOID Artritis reumatoid (RA) merupakan pembengkakan pada jaringan ikat yang menyerang sendi tangan dan kaki serta dapat terj...