Rabu, 18 November 2020

ANTIHISTAMIN I (ETILENDIAMIN DAN KOLAMIN)

HISTAMIN DAN ANTIHISTAMIN

HISTAMIN adalah senyawa normal dalam jaringan tubuh (sel mast dan basofil). Hampir semua organ dan jaringan mengandung Histamin terutama dalam sel mast (terikat dan inkatif). Histamin dikeluarkan dari sel mast berupa rangsangan alergen (Spora, debu, sinar uv, cuaca, racun, deterjen, enzim proteolitik (Tripsin), zat warna, obat, makanan dan lain sebagainya).

Tubuh memiliki zat kimia bernama histamin. ketika ada zat-zat berbahaya seperti virus atau bakteri masuk kedalam tubuh, histamin akan muncul dan bereaksi melawan zat tersebut. Perlawanan histamin melawan zat berbahaya ini bisa membuat tubuh mengalami inflamasi (peradangan).

Namun jika tubuh kita memiliki alergi, Histamin tidak dapat membedakan mana zat berbahaya dan tidak. Sehingga ketika ada zat yang tidak berbahaya seperti makanan, debu atau serbuk sari, tubuh akan tetap mengalami inflamasi dan reaksi alergi. Beberapa contoh reaksi alergi yaitu seperti kulit gatal, memerah, membengkak, pilek, bersin-bersin, mata bengkak dan lain-lain.

MEKANISME KERJA HISTAMIN

1. Menimbulkan efek ketika berinteraksi dengan reseptor histaminergik yaitu reseptor H1, H2 dan H3.

2. Histamin berinteraksi dengan H1 menyebabkan sembab, pruritik dermatik dan urtikaria

3. Histamin berinteraksi dengan H2 menyebabkan peningkatan sekresi asam lambung yang menyebabkan tukak lambung.

4. Reseptor H3 yang terletak pada ujung syaraf jaringan otak dan jaringan perifer mengontrol sintesis dan pelepasan histamin, mediator alergi serta inflamasi.

Untuk menghentikan Histamin dalam mempengaruhi sel tubuh serta mengeluarkan reaksi alergi, maka diperlukan suatu obat penghambat/anti dari histamin yaitu obat ANTIHISTAMIN.

ANTIHISTAMIN adalah obat dengan efek antagonis terhadap histamin, berupa zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan cara memblok reseptor histamin (penghambat histamin).

RESEPTOR HISTAMIN

RESEPTOR

MEKANISME

FUNGSI

ANTAGONIS

H1

Gq

1.       Kontraksi ileum

2.       Medulasi siklus serkadian

3.       Gatal

4.       Vasodilatasi sistemik

5.       Bronkokonstriksi (asma terinduksi alergi)

H1 Receptor Antagonists

1.       Difenhidramin

2.       Loratadin

3.       Setirizin

4.       Feksofenadin

5.       Klemastin

H2

Gs

Camp 2+

1.       Mempercepat ritme sinus

2.       Stimulasi sekresi asam lambung

3.       Relaksasi otot polos

4.       Menghambat sintesis antibodi, poliferasi sel T dan prosduksi sitokin.

H2 Receptor Antagonists

1.       Ranitidin

2.       Simetidin

3.       Famotidin

4.       Nizatidin

H3

Gi

1.       Menurunkan pelepasan asetilkolin, serotonin dan norepinefrin di SSP.

2.       Autoreseptor presinaptik

H3 Receptor Antagonists

1.       ABT-239

2.       Ciproxifan

3.       Clobenpropit

4.       Thioperamide

H4

Gi

1.       Memediasi kemotaksi sel mast

H4 Receptor Antagonists

1.       Thioperamide

2.       JNJ7777120

 KLASIFIKASI ANTIHISTAMIN

Antihistamin dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:

1. Antagonis Reseptor H1 (H1 Blockers) atau Antihistaminika Klasik yaitu mengantagonis histamin dengan cara memlok reseptor H1 dari dinding pembuluh bronchi dan saluran cerna (kandung kemih & rahim). Selain itu juga melawan efek histamin dikapiler dan ujung saraf. Efeknya adalah SIMTOMATIS, Antihistamin tidak dapat menghindari reaksi alergi.

2. Antagonis Reseptor H2 (H2 Blockers) atau Penghambat Asma yaitu menghambat secara efektif sekresi asam lambung yang meningkat akibat histamin dengan cara persaingan terhadap reseptor H2 di lambung. Efeknya adalah berkurangnya Hipersekresi asam klorida, mengurangi vasodilatasi dan menurunkan tekanan darah. Senyawa ini banyak digunakan pada terapi tukak lambung usus guna mengurang sekresi HCl dan Pepsin serta sebagai zat pelindung tambahan pada terapi kortikosteroid.

TURUNAN ANTIHISTAMIN

A. Turunan Etilendiamin 

1. Etilendiamin mempunyai efek samping penekanan CNS dan gastro intestinal. 
2. Antihistamin tipe piperazin, imidazolin dan fenotiazin mengandung bagian etilendiamin.
3. Pada kebanyakan molekul obat adanya  nitrogen kelihatannya merupakan kondisi yang diperlukan untuk pembentukan garam yang stabil dengan asam mineral.
4. Gugus amino alifatik dalam etilen diamin cukup basis untuk pembentukan garam, akan tetapi atom N yang diikat pada cincin aromatik sangat kurang basis.
5. Elektron bebas pada nitrogen aril di delokalisasi oleh cincin aromatik.
Contoh Etilendiamin :
1. Tripelenamin HCl (Azaron, Tripel);
2. Antazolin HCl (Antistine)
3. Mebhidrolin nafadisilat (Incidal, Histapan), dan
4. Bamipin HCl (Soventol).
Hubungan struktur antagonis H1 dengan turunan etilendiamin:
1. Tripelennamine HCl mempunyai efek antihistamin sebanding dengan difenhidramin dengan efek samping lebih rendah.
2. Antazoline HCl mempunyai aktivitas antihistamin lebih rendah dibanding dengan turunan etilendiamin yang lain.

 a. Farmakokinetik Tripelennamine HCl

            Biasanya diabsorbsi dengan baik di saluran cerna, kadar puncak plasma dicapai dalam 2-3 jam efeknya berakhir 4-6 jam. Distribusi obat luas termasuk di ssp dalam jumlah kecil dijumpai dalam urin dengan bentuk metabolit. Eliminasi obat ini cepat pada anak-anak dan dapat menginduksi enzim microsomal hepatic.

b. Farmakodinamik Tripelennamine HCl

            Tripelennamine merupakan antagonis histamin H1. Bersaing dengan histamin untuk normal H1 situs reseptor pada sel-sel efektor dari saluran pencernaan, pembuluh darah dan saluran pernapasan.


B. Turunan Kolamin
Memiliki gugus -o- pada struktur umum- pemasukan gugus Cl, Br, dan OCH3 pada posisi para cincin aromatik akan meningkatkan aktivitas dan menurunkan efek samping.
a.  Farmakokinetik Difenhidramin

            Absorbsi

Obat difenhidramin diabsorbsi dengan baik di saluran pencernaan. Waktu untuk mencapai konsentrasi plasma puncak sekitar 1-4 jam.

Distribusi

Difenhidramin didistribusikan secara luas ke seluruh bagian tubuh termasuk sistem saraf pusat. Obat ini dapat berikatan dengan protein plasma (plasma binding protein) 98-99%.

Metabolisme

Difenhidramin dimetabolisme terutama di hati. Obat ini dapat dimetabolisme di hati menjadi N-Desmetildifenhidramin dan difenhidramin N-glukoronida.

Ekskresi

Difenhidramin diekskresi melalui urin dalam bentuk metabolit walaupun sebagian kecil bisa berbentuk obat utuh. 


                                                b. Farmakodinamik Difenhidramin

            Aspek penting dari farmakologi obat diphenhydramine adalah sebagai antagonis reseptor histamin H1 generasi pertama sehingga dapat mengurangi kadar histamin dalam tubuh, sebagai antiparkinson, antiemesis, antikolinergik dan sedasi.






DAFTAR PUSTAKA
Ganis S.G, Setiabudy R, Suiyatna. F.D. 1995. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: UI Press.
Siswanto. 2000. Kimia Medisinal jilid 2. Jakarta : Airlangga.


THANK YOU 😊



PERMASALAHAN
1. Sebutkan turunan antihitamin selain etilendiamin dan kolamin 
2.Apakah boleh mengonsumsi antihistamin tanpa resep dokter ?
3. Dapatkah antihistamin dikombinasikan dengan obat lain ?










54 komentar:

  1. Mantap sangat bermanfaatπŸ‘

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Sangat membantu materinyaa, sebagai referensi bahan bacaan

    BalasHapus
  5. Izin menjawab pertanyaan no. 1
    Turunan antihistamin selain etilendiamin dan kolamin adalah etanolamin, propilamin, piperazin, fenotizin dan turunan siklik lainnya seperti azatadin dan pizotifen.
    Terimakasih

    BalasHapus
  6. bagus sekali pembahasannya, saya Roza ingin bertanya Apakah obat antihistamin aman untuk ibu hamil dan menyusui?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih.
      Baik lah disini saya izin menjawab pertanyaan dari saudara Roza, anak-anak mungkin sensitif terhadap antihistamin, terutama adanya eksitasi dan agitasi sehingga harus diwaspadai oleh ibu hamil. Maka, perlu adanya pengawasan dari dokter. Perlu diketahui jika obat ini dikonsumsi oleh ibu hamil otomatis ia akan masuk kedalam ASI dan akan memberikan efek pada bayi ketika menyusui. Oleh sebab itu saran saya sebaiknya bicarakan terlebih dahulu dengan dokter atau penyedia layanan kesehatan setelah minum antihistamin jika sedang menyusui, takutnya terjadinya masalah kesehatan baik pada ibu hamil maupun pada bayi.

      Hapus
  7. Terimakasih telah memberikan suatu materi dan juga memberikan contoh gambar agar mudah di mengerti dan tidak membuat pembaca bosan juga

    BalasHapus
  8. 1. Alkilamin, piperazin, etanolamin, piperidin, dll.
    2. Diphenhydramine, indikasinya untuk membantu meredakan reaksi alergi, seperti bersin, mata atau tenggorokan gatal.
    3. Tidak boleh
    4. Sebaiknya jangan mengkombinasikan antihistamin dengan obat lain.
    5. Efek samping antihistamin: mulut kering, mengantuk, pusing, mual dan muntah.
    Terima kasih.

    BalasHapus
  9. Mantap sangat membantuπŸ‘πŸΎ

    BalasHapus
  10. Izin bertanya
    Apakah obat anthistamin perlu dihabiskan jika alergi sudah sembuh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Antihistamin adalah obat yang diberikan untuk mengatasi gejala-gejala alergi. Obat ini hanya disarankan dikonsumsi saat gejala alergi sedang muncul saja, sehingga bila anda memang sudah tidak mengalami gejala-gejala alergi lagi, anda boleh berhenti mengkonsumsinya. Untuk menghindari munculnya gejala-gejala alergi kembali, anda harus mencari dan mengenali dengan baik zat-zat apa saja yang menimbulkan reaksi alergi pada tubuh anda. Bila anda sudah mengenali zat-zat alergen tersebut, anda harus menghindari paparan dengan alergen tersebut. Alergi adalah kondisi yang tidak bisa sembuh (kadang dapat menghilang sendiri, kadang juga akan menetap seumur hidup), obat-obatan antialergi yang tersedia hanya berfungsi untuk mengurangi/menyembuhkan gejala-gejala alergi saja.

      Hapus
  11. Izin menjawab pertanyaan no 4 son
    Dapatkah obat antihistamin dikombinasikan dengan obat yang lain?
    Jawabannya sebaiknya tidak menkombinasi obat antihistamin ini atau menggunakannya bersamaan dengan obat lain tanpa anjuran dokter.karna disini tidak dijelaskan secara spesifik golongan dari antihistamin yang akan dikombinasikan dan jenis obat lain yang ingin dikombinasikan sehingga kondisi sama-sama tidak diketahui interaksi kedua obat, sebaiknya tidak menkombinasikannya tampa anjuran dokter.

    BalasHapus
  12. Wahh sangat bermanfaat sekali son..
    Izin menanggapi pertanyaan no.5
    Dari sumber yg saya baja.. tiap golongan antihistamin memiliki efek samping yang berbeda beda.. baik itu antihistamin golongan 1 ataupun golongan 2. Tapi efek samping yang paling umum dirasakan oleh pasien yaitu rasa kantuk,pusing, sakit kepala.

    BalasHapus
  13. Mantap sangat membantu son πŸ‘

    BalasHapus
  14. Uwuwuwu syukaa sama blog nya dong. Kyuudd
    Izin menanggapi pertanyaan nomor 3 dong son

    Disini saya mengambil salah satu contoh obat dari antihistamine yaitu Obat CTM, Menurut Tuarissa et al ( 2014), obat ini merupakan
    salah satu golongan obat bebas
    terbatas yang bisa diperoleh tanpa
    menggunakan resep dokter.Sistem
    distribusi obat bebas dan obat bebas
    terbatas yang ideal didistribusikan
    kesarana pelayanan seperti apotek,
    puskesmas, instalasi farmasi, dan toko
    obat. Dalam hal ini obat bebas dan
    obat bebas terbatas harus
    didistribusikan ke sarana-saran
    pelayanan farmasi yang telah memiliki
    izin menyimpan obat-obatan untuk
    dijual secara eceran di tempat tertentu
    dan telah mempekerjakan seorang
    farmasis seperti apoteker ataupun
    asisten apoteker sebagai penanggung
    jawab teknis farmasi

    Terimakasih :))

    BalasHapus
  15. Terimakasih ilmunyaπŸ‘πŸ’Ÿ

    BalasHapus
  16. terimakasih ilmunya kak. semangat πŸ™ŒπŸ»

    BalasHapus
  17. mantoelllll!!!! semangat terus soniaa, makasiii ilmunyaaa

    BalasHapus
  18. Asaalamu'alaikum sonia, saya akan menjawab pertanyaan anda nomor 5, efeksampik yang sering muncul saat mengkonsumsi antihistamin ialah mengantuk, selain itu juga terjadinya gangguan fungsi saluran cerna,sakit kepala dan lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumussalam terimakasih atas Jawabannya izki

      Hapus
    2. Izin menanggapi, disini anda menjelaskan bahwa obat antihistamin salah satu efeknya yaitu mengantuk. Pertanyaan saya apakah bisa obat ini digunakan ubtuk mengatasi masalah insomnia ?

      Hapus
    3. Baiklah saya mencoba untuk menjawab pertanyaannya. Apakah obat ini bisa untuk mengatasi insomnia? Berdasarkan referensi yang saya baca, Menurut Rafael Pelayo, MD, seorang ahli tidur di Standford Sleep Medicine Centre, menjelaskan bahwa ketika antihistamin bekerja menangkal histamin, tubuh akan menjadi lelah. Itulah sebabnya Anda akan mengantuk setelah meminum obat ini.Sebuah studi tahun 2007 yang diterbitkan pada Journal of Clinical Sleep Medicine melakukan pengujian penggunaan antihistamin untuk mengatasi insomnia. Sebanyak 46 studi diperiksa kembali mengenai efektivitas obat-obatan berbasis DPH dalam memperbaiki kualitas tidur. Hasilnya menunjukkan bahwa minum antihistamin bukanlah cara yang tepat untuk membantu tidur seseorang.

      Sebenarnya, obat-obatan berbasis DPH umumya aman digunakan dan berisiko rendah menyebabkan efek samping serius. Namun, tidak menutup kemungkinan akan berdampak buruk jika digunakan dalam jangka panjang, misalnya diminum setiap malam sebelum tidur.
      Semoga dapat membantu.

      Hapus
    4. Bisakah anda menjelaskan dampak buruk yang akan terjadi ?

      Hapus
    5. Ok, sebelumnya balasan saya diatas ada kekurangan satu kata yaitu kata panjang. Jadi obat ini berdampak buruk dalam pemakaian jangka panjang.trus reply anda dampak buruk seperti apa ? Ok dampak buruk yang mungkin akan terjadi adalah memperburuk masalah kesehatan tertentu. Karena obat-obatan yang mengandung DPH Sebenarnya, obat-obatan berbasis DPH umumya aman digunakan dan berisiko rendah menyebabkan efek samping serius. Namun, tidak menutup kemungkinan akan berdampak buruk jika digunakan dalam jangka panjang, misalnya diminum setiap malam sebelum tidur. Selain itu, ia juga menyebabkan kantuk di esok hari. Hal ini terjadi karena Efek samping mengantuk dari antihistamin bertahan cukup lama pada sistem di tubuh Anda. Bahkan, hingga keesokkan harinya. Kondisi ini menyebabkan pikiran Anda berkabut dan sulit untuk konsentrasi. Terimakasih

      Hapus
    6. Wah, sangat bermanfaat . Saya jadi mengerti. Terima kasih πŸ™

      Hapus
  19. Wah sangat bermanfaat.
    Tulisannya sangat mudah di pahami

    BalasHapus
  20. Wah ga bosen bacanya, mudah difahami tulisannya.. semongkoooo soniiiiiaa

    BalasHapus
  21. Izin menjawab soal nomor 3πŸ™sebenarnya dibutuhkan nama obat yang spesifik dari golongan antihistamin tersebut, dan nama obat lain yang spesifik untuk dilihat kemungkinan interaksinya. Namun secara umum, dalam kondisi sama-sama tidak diketahui, sebaiknya tidak mencampurkan obat ini atau menggunakannya bersamaan dengan obat lain tanpa anjuran dokter

    BalasHapus
  22. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat πŸ™πŸ»

    BalasHapus
  23. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat πŸ™πŸ»

    BalasHapus

RHEUMATOID ARTRITIS

  ARTRITIS REUMATOID Artritis reumatoid (RA) merupakan pembengkakan pada jaringan ikat yang menyerang sendi tangan dan kaki serta dapat terj...